Dear Rodovidians, today, 2026-03-01, at 16:30 UTC the next upgrade step will be started.
During the upgrade, the database will be locked to read-only mode.
ETA: depends on localisation. On average – a couple of hours per localisation.

6. Bendoro Pangeran Haryo Dipawiyana

Da Rodovid IT.

Persona:354670
Clan (casata) alla nascita Hamengku Buwono II
Sesso Maschile
Nome completo
alla nascita
6. Bendoro Pangeran Haryo Dipawiyana
Genitori

4. Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono II [Hb. 1.4] [Hamengku Buwono I] b. 7 marzo 1750 d. 3 gennaio 1828

Bendoro Raden Ayu Herowati [Ga.Hb.2] [?]

[1]

Eventi

figlio(a) nascita: Raden Ayu Pangulu Kamaludiningrat [Hamengku Buwono II]

Note

Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study

BPH Dipawiyana adalah anak dari Seri Sultan Hamengku Buwono. Sejarah Hamengku Buwono II: Sri Sultan Hamengkubuwana II (lahir 7 Maret 1750 – meninggal 3 Januari 1828 pada umur 77 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah selama tiga periode, yaitu 1792 - 1810, 1811 - 1812, dan 1826 - 1828.[1] Pada pemerintahan yang kedua dan ketiga ia dikenal dengan julukan Sultan Sepuh.

Riwayat Masa Muda

Nama aslinya adalah Raden Mas Sundoro, putra Hamengkubuwana I, Ia dilahirkan tanggal 7 Maret 1750 saat ayahnya masih menjadi Pangeran Mangkubumi dan melakukan pemberontakan terhadap Surakarta dan VOC. Ketika kedaulatan Hamengkubuwana I mendapat pengakuan dalam perjanjian Giyanti 1755, Mas Sundoro juga ikut diakui sebagai Adipati Anom.

Pada tahun 1774 (atau tahun Jawa 1700) terjadi kegelisahan di kalangan Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta akibat mitos akhir abad, bahwa akan ada sebuah kerajaan yang runtuh. Dalam kesempatan itu, Mas Sundoro menulis kitab Serat Suryaraja yang berisi ramalan bahwa mitos akhir abad akan gugur karena Surakarta dan Yogyakarta akan bersatu di bawah pemerintahannya. Naskah tersebut sampai saat ini dikeramatkan sebagai salah satu pusaka Keraton Yogyakarta.

Pemerintahan Periode Pertama

Mas Sundoro naik takhta Yogyakarta sebagai Hamengkubuwana II pada bulan Maret 1792. Ia merupakan raja yang penuh dengan cita-cita. Para pejabat senior yang tidak sesuai dengan kebijakan politiknya segera dipensiunkan dan diganti pejabat baru. Misalnya, Patih Danureja I diganti dengan cucunya, yang bergelar Danureja II. Keputusan ini kelak justru merugikannya, karena Danureja II setia kepada Belanda, berbeda dengan rajanya.

Hamengkubuwana II sendiri bersikap anti terhadap Belanda. Ia bahkan mengetahui kalau VOC sedang dalam keadaan bangkrut dan bobrok. Organisasi ini akhirnya dibubarkan oleh pemerintah negeri Belanda akhir tahun 1799.

Sejak tahun 1808 yang menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda (pengganti gubernur jenderal VOC adalah Herman Daendels yang anti feodalisme. Ia menerapkan aturan baru tentang sikap yang seharusnya dilakukan raja-raja Jawa terhadap minister (istilah baru untuk residen). Hamengkubuwana II menolak mentah-mentah peraturan ini karena dianggap merendahkan derajatnya, sedangkan Pakubuwana IV menerima dengan taktik tersembunyi, yaitu harapan bahwa Belanda akan membantu Surakarta menaklukkan Yogyakarta.

Hamengkubuwana II juga bersitegang dengan Patih Danureja II yang dekat dengan Belanda. Ia memecat Danureja II dan menggantinya dengan Pangeran Natadiningrat putra Pangeran Natakusuma (saudara Hamengkubuwana II). Kemudian Hamengkubuwana II juga merestui pemberontakan besanya, yaitu Raden Rangga Prawiradirjo I bupati Madiun yang menentang penjajahan Belanda. Putera KPR Prawirodirjo I, Raden Ronggo Prawirosentiko Bupati Toenggoel menikah dengan puteri Hamengku Buwono II dari isteri ampeyannya BMA Yati.Raden Rangga Prawirodirjo I adalah juga paman Hamengku Buwono II. Ibu Hamengku Buwono II Kanjeng Ratu Tegalraya adalah adik KPR Prawirodirjo bapak mereka adalah Kyai Ageng Derpayuda.(Genealogy Keraton Yogya).

Belanda berhasil menumpas Raden Rangga dan melimpahkan beban tanggung jawab, misalnya biaya perang, kepada Hamengkubuwana II. Hal ini menyebabkan keributan antara kedua pihak. Pada bulan Desember 1810 Herman Daendels menyerbu Yogyakarta, menurunkan Hamengkubuwana II, dan menggantinya dengan Hamengkubuwana III, menangkap Natakusuma dan Natadiningrat, serta mengembalikan kedudukan Patih Danureja II. [sunting] Pemerintahan Periode Kedua

Pada tahun 1811 pemerintahan Belanda atas Jawa dan Nusantara direbut oleh Inggris. Hal ini dimanfaatkan Hamengkubuwana II untuk kembali menjadi raja, dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota kembali.

Sikap Hamengkubuwana II terhadap Inggris sama buruknya dengan terhadap Belanda. Bahkan, ia berani bertengkar dengan Thomas Raffles sewaktu letnan gubernur Inggris tersebut mengunjungi Yogyakarta bulan Desember 1811.

Pakubuwana IV di Surakarta pura-pura mendukung Hamengkubuwana II agar berani memerangi Inggris. Surat-menyurat antara kedua raja ini terbongkar oleh Inggris. Maka, pada bulan Juni 1812 pasukan Inggris yang dibantu Mangkunegaran menyerbu Yogyakarta. Hamengkubuwana II dibuang ke pulau Penang, sedangkan Pakubuwana IV dirampas sebagian wilayahnya.

Hamengkubuwana III kembali diangkat sebagai raja Yogyakarta. Pangeran Natakusuma yang mendukung Inggris, oleh Thomas Raffles diangkat sebagai Pakualam I dan mendapat wilayah berdaulat bernama Pakualaman. [sunting] Pemerintahan Periode Ketiga

Pada tahun 1825 terjadi pemberontakan Pangeran Diponegoro (putra Hamengkubuwana III) terhadap Belanda (yang kembali berkuasa sejak tahun 1816). Saat itu raja yang bertakhta di Yogyakarta adalah Hamengkubuwana V.

Pemberontakan Pangeran Diponegoro sangat mendapat dukungan dari rakyat. Pemerintah Hindia Belanda mencoba mengambil simpati rakyat dengan mendatangkan Hamengkubuwana II yang dulu dibuang Inggris. Hamengkubuwana II kembali bertakhta tahun 1826, sedangkan Hamengkubuwana V diturunkan oleh Belanda. Namun usaha ini tidak membuahkan hasil. Rakyat tetap saja menganggap Pangeran Diponegoro sebagai raja mereka.

Hamengkubuwana II yang sudah tua (dan dipanggil sebagai Sultan Sepuh) akhirnya meninggal dunia pada tanggal 3 Januari 1828. Pemerintahan kembali dipegang oleh cicitnya, yaitu Hamengkubuwana V.

Fonti

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwana_II -

Degli ascendenti per i descendenti

Nonni
12. Gusti Pangeran Hario Hadiwijoyo
Matrimonio: Raden Ayu Sentul
Morte: 1753, Kaliabu, Salaman, Magelang
Sri Sultan Hamengku Buwono I / Pangeran Haryo Mangkubumi (Raden Mas Sujono)
Nascita: 5 agosto 1717, Kartasura
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Asmorowati
Matrimonio: Gusti Kanjeng Ratu Kencono
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Tiarso [G.Hb.1.3] (Bendoro Raden Ayu Tilarso)
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Sawerdi
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Mindoko [G.Hb.1.6]
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Jumanten [G.Hb.1.8]
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Wilopo [G.Hb.1.9]
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Ratnawati [G.Hb.1.10]
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Tandawati [G.Hb.1.12]
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Tisnawati [G.Hb.1.13]
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Turunsih
Matrimonio: Bandara Mas Ayu Ratna Puryawati [G.Hb.1.15]
Matrimonio: Bendoro Radin Ayu Doyo Asmoro [G.Hb.1.16]
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Gandasari [G.Hb.1.17]
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Srenggara
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Karnokowati [G.Hb.1.18]
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Setiowati [G.Hb.1.19]
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Padmosari [G.Hb.1.20]
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Sari [G.Hb.1.21]
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Pakuwati [G.Hb.1.22]
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Citrakusumo [G.Hb.1.23]
Matrimonio:
Matrimonio: 2. Mas Roro Juwati / Raden Ayu Beruk / KRK Kadipaten / KRK Ageng / KRKTegalraya (Kanjeng Ratu Mas)
Matrimonio: 4. Bendoro Raden Ayu Handayahasmara / Mbak Mas Rara Ketul
Matrimonio: Raden Ayu Wardiningsih
Titolo: 29 novembre 1730 - 13 febbraio 1755, Kartasura, Pangeran Mangkubumi
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Cindoko [G.Hb.1.11] , Yogyakarta
Titolo: 13 febbraio 1755 - 24 marzo 1792, Yogyakarta
Morte: 24 marzo 1792, Imogiri, Yogyakarta
Titolo: 10 novembre 2006, Jakarta, Pahlawan Nasional RI
4. Raden Ronggo Prawirosentiko (1) / Raden Ronggo Prawirodirjo I
Titolo: 1755 - 1784, Bupati Madiun Ke 14, di Kranggan
Morte: 1784, dimakamkan di Pemakaman Taman
Nonni
Genitori
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam I [Hb.1.6] (Kanjeng Pangeran Haryo Notokusumo)
Nascita: 21 marzo 1760, Pangeran Notokusumo / Pangeran Adipati Paku Alam I (1813-1829) Pendiri wangsa Pakualaman yang lahir pada tahun 1760 ini adalah peletak dasar kebudayaan Jawa dalam Kadipaten Pakualaman. Kepada para putra sentana, PA I memberi pelajaran sains dan tata negara. Beberapa karya sastranya adalah: Kitab Kyai Sujarah Darma Sujayeng Resmi (syair), Serat Jati Pustaka (sastra suci), Serat Rama (etika), dan Serat Piwulang (etika). Ia wafat pada tanggal 19 Desember 1829.
Nascita: 21 marzo 1764, Yogyakarta
Titolo: 28 gennaio 1812 - 31 dicembre 1829, Yogyakarta, Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I [1812-1829]
Morte: 31 dicembre 1829, Yogyakarta
Kanjeng Pangeran Adipati Dipowijoyo I [Hb.1.8] (Pangeran Muhamad Abubakar)
Nascita: 1765
Titolo: ~ 1810, Yogyakarta, Pangeran Muhamad Abubakar
14. Bendoro Raden Mas Hadiwijaya / Bendoro Pangeran Haryo Panular
Nascita: 1771
Morte: 30 luglio 1826, Nglengkong, Sleman
1. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkunegoro Gusti Raden Mas Intu
Titolo: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anum Amangku Negara ingkang Sudibya Atmarinaja Sudarma Mahanalendra
Seppelimento: agosto 1758, Imogiri, Yogyakarta
16. Bendoro Pangeran Haryo Mangkukusumo (1)
Nascita: 1772
Occupazione: gennaio 1828, Wakil Dalem
Genitori
 
== 3 ==
Sri Sultan Hamengku Buwono III / Gusti Raden Mas Surojo
Nascita: 20 febbraio 1769, Yogyakarta
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Murtiningsih [Ga.Hb.3.21]
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Hadiningdiah [Ga.Hb.3.22] / Bendoro Raden Ajeng Ratnadimurti
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Mindarsih
Matrimonio: Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.1.?] / Gusti Kanjeng Ratu Hageng [Gp.Hb.3.1]
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Mangkorowati [Ga.Hb.3.1]
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Dewaningrum
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Lesmonowati ? (Ratu Kencono)
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Kusumodiningrum
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Mulyoningsih
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Puspitosari
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Mulyosari
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Puspitoningsih
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Puspitolangen
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Kalpikowati
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Surtikowati
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Panukmowati
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Madrasah
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Padmowati
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Wido
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Doyopurnomo
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Puspowati
Matrimonio: Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Gp.Hb.3.1] ? (Prawirodirjo)
Matrimonio: Gusti Kanjeng Ratu Wadhan [Gp.Hb.3.3]
Matrimonio: Bendoro Mas Ayu Sasmitoningsih [Ga.Hb.3.19]
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Renggoasmoro [Ga.Hb.3.20]
Matrimonio: Bendoro Raden Ayu Hadiningsih [Ga.Hb.3.23]
Titolo: 31 dicembre 1808, Yogyakarta, Raja Putro Narendro Pangeran Adipati Anom Amangkunegoro (Pangeran Wali)
Titolo: 1810 - 28 dicembre 1811, Yogyakarta
Titolo: 12 giugno 1812 - 3 novembre 1814, Yogyakarta, Ngarsodalem Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III
Morte: 3 novembre 1814, Yogyakarta, Imogiri
44. Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo / Bendoro Pangeran Haryo Abdul Arifin Hadiwijaya (Bendoro Raden Mas Nuryani)
Nascita: 1794
Matrimonio: 2. Bendoro Raden Ayu Nuryani / Bendoro Raden Ayu Abdu'l Arifin Hadiwijoyo
Morte: 30 luglio 1826, Nglengkong-Sleman, Termasuk dalam Daftar Panglima Perang Pangeran Diponegoro, (wafat pada 30 Juli 1826, dalam sebuah penyergapan Belanda didaerah Nglengkong-Sleman, Royal.Ark)
== 3 ==
Figli
Figli
Nipoti
Nipoti

Strumenti personali
Altre lingue